headerphoto

AYO Dukung Program 1.000.000 PERISAI Anak Indonesia

Membangun kesadaran Multikultural Anak Usia Dini

Rabu, 28 Juli 2010 12:10:30 - oleh : admin

Ada anak bertanya pada bapaknya, “Pa, kasihan ya, Pa, si Dodo dan keluarganya.” “Memang kenapa dengan si Dodo dan keluarganya?” Tanya Bapaknya. “Kata Bu guru mereka akan masuk neraka karena agamanya berbeda dengan kita. Kasihan kan, Pa, padahal kan mereka baik sekali.”

Anggapan seperti itu mungkin tidak hanya dimiliki oleh seorang anak akan tetapi sudah menjadi bagian dari kesadaran banyak orang yang terlanjur dididik untuk menganggap “yang berbeda” sebagai yang lebih rendah dari agamanya, budayanya, etnisnya, dan tradisinya. Kesadaran seperti ini selain dapat memicu tindakan diskriminatif juga berpeluang besar terjadinya divergen-disintegratif, meminjam istilah Profesor HAR Tilaar. Sehingga pendidikan multikultural yang mendudukkan “yang berbeda” sama tinggi dan sama nilai menjadi sangat penting dalam paradigma pendidikan kita untuk meningkatkan toleransi, inklusivisme, dan penolakan terhadap diskriminasi dan eksklusivisme. Maka membangun kesadaran multikultur sejak usia dini menjadi sangat penting dalam konteks Indonesia mengingat sangat majemuknya masyarakat yang menghuni Indonesia.

Menurut HAR Tilaar pendidikan multikultur tidak bertujuan untuk menghilangkan perbedaan akan tetapi menghilangkan prasangka, menimbulkan dialog, mengenal perbedaan sehingga timbul rasa saling menghargai dan mengapresiasi. Dari sini diharapkan akan muncul modal kultural suatu bangsa karena bangsa yang kehilangan modal kultural akan sangat rawan perpecahan. Modal kultural ini lahir dari kekayaan kearifan lokal bangsa yang jika diangkat bisa menjadi kekuatan yang sangat besar. Dalam konteks Indonesia yang dikenal amat majemuk, pendidikan multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Penanaman kesadaran multikultur sejak usia dini akan menjadi langkah yang sangat kreatif dan strategis dalam upaya pengelolaan kemajemukan bangsa. Karena seperti kata pepatah “belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu” sehingga penghormatan terhadap perbedaan akan melekat sepanjang hayat dalam diri seorang anak manusia.

Beberapa hal yang akan didiskusikan meliputi:

  1. Bagimana sejauh ini perbedaan budaya/agama diapresiasi dalam pendidikan di Indonesia?
  2. Apa yang dimaksud dengan pendidikan multikultural ini dan mengapa menjadi sangat penting diajarkan pada anak sejak dini dalam konteks Indonesia maupun dalam konteks globalisasi?
  3. Pemahaman multikultural apa saja yang perlu ditanamkan sejak dini yang akan melahirkan kesadaran dan penghormatan terhadap perbedaan dimasa depan anak? Serta bagaimana kurikulum dan metode pembelajaran multikulturalisme pada anak usia dini ini?
  4. Apa tantangan dan hambatan baik dari system/pemerintah, orang tua maupun masyarkat mainstream, dalam pelaksanaan pendidikan multikultur ini? Bagaimana seharusnya mereka ikut berperan?

Untuk mendiskusikan masalah ini Resonansi mengundang dua orang narasumber:

  1. Sri Marpinjun, Direktur Lembaga Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak (LSPPA).
  2. Demitria Budiningrum, Kepala Sekolah Early Childhood & Care Development Resource Center (ECCDRC) Jogjakarta.

Acara ini akan dipandu oleh Prof. Irwan Abdullah dari CRCS UGM dan akan dihadiri oleh mahasiswa UNY.

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Opini Anak Indonesia" Lainnya